Senin, 19 Januari 2015

manfaat integrasi sistem informasi geografis

Pada mulanya pekerjaan pengolahan data geospasial dengan komputer hanya terbatas pada membangun data tergantung pada bidang studinya. Pada masa kini ahli kartografi membuat basisdata dari peta yang telah dibuat sebelumnya secara manual. Dalam tahap selanjutnya analisis spasial dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan, bagi ahli kartografi ini artinya dapat membuat data turunan dari basisdata tersebut. Kartografi diperlukan dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk membuat tampilan peta yang cocok sesuai kaidah kartografi. SIG menawarkan berbagai kemungkinan integrasi data dari berbagai sumber.
 
Integrasi penginderaan jauh (inderaja) dan sistem informasi geografis (SIG) merupakan dua sistem teknologi yang revolusioner pada abad ini. Kedua sistem ini sama-sama berlatar belakang geo-science, sehingga keberadaan satu sama lainnya sebenarnya banyak mempunyai keterkaitan. Mungkin selama ini kebanyakan memilih membangun sistem tersebut secara terpisah, atau secara tanpa disadari integrasi kedua sistem tersebut sebenarnya telah mereka lakukan. Hal itu sebagai wujud dari inderaja dapat digunakan sebagai alat bantu dalam updating data spasial sebuah sistem SIG yang dibangun.
 
Penginderaan jauh (Sutanto, 1994) merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji. Komponen dasar suatu sistem penginderaan jauh lokal ditunjukkan dengan adanya suatu sumber tenaga yang seragam, atsmosfer yang tidak mengganggu, sensor sempurna, serangkaian interaksi yang unik antara tenaga dengan benda di muka bumi, sistem pengolahan data tepat waktu, berbagai penggunaan data.
 
Tujuan utama penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data sumberdaya alam dan lingkungan. Biasanya teknik ini menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya diproses dan diinterpretasi guna membuahkan data yang bermanfaat untuk aplikasi di bidang pertanian, arkeologi, kehutanan, geografi, geologi, perencanaan, pemantauan dan pengelolaan wilayah pesisir serta bidang-bidang lainnya.
 
Penginderaan jauh mempunyai kemampuan menghasilkan data spasial yang susunan geometrinya mendekati keadaan sebenarnya dengan cepat dan dalam jumlah besar. Teknologi SIG akan memberi nilai tambah pada kemampuan penginderaan jauh dalam menghasilkan data spasial yang besar dimana pemanfaatan data penginderaan jauh tersebut tergantung pada cara penanganan dan pengolahan data yang akan mengubahnya menjadi informasi yang berguna.
 
SIG adalah sistem informasi yang didesain untuk bekerja dengan data spasial atau data yang mengacu pada posisi di muka bumi (geo-referenced data). SIG terdiri dari suatu kumpulan basisdata dengan kemampuan khusus untuk menangani data spasial maupun suatu kumpulan tindakan. SIG juga suatu infrastruktur untuk mengintegrasi data dari berbagai skala dan waktu dan dari berbagai format, dengan kata lain, SIG adalah suatu peta dari tatanan yang lebih tinggi. Dengan pengembangan SIG dibangun pula teknologi 4 M Measurement (Pengukuran), Mapping (pemetaan), Monitoring (pemantauan) dan Modelling (pemodelan).
 
Dari sekian banyak definisi tentang SIG, mungkin definisi dengan pendekatan basisdata yang kini banyak dipakai, karena SIG dari sudut pandang “basisdata” menekankan pentingnya basisdata yang didesain benar, akurat dan dapat dioperasionalkan. Basisdata adalah pengorganisasian data yang tidak berlebihan dalam komputer sehingga dapat dilakukan pengembangan, pembaharuan, pemanggilan, dan dapat digunakan secara bersama oleh pengguna. Suatu sistem manajemen basisdata yang canggih dilihat sebagai bagian integral dari SIG. Pandangan ini umumnya didominasi oleh mereka yang berlatar belakang “ilmu komputer”.
 
Ada beberapa alasan mengapa perlu menggunakan integrasi inderaja dan SIG, di antaranya adalah:
  • Dapat menggunakan data spasial maupun atribut secara terintegrasi,
  • Dapat digunakan sebagai alat bantu interaktif yang menarik dalam usaha meningkatkan pemahaman mengenai konsep lokasi, ruang, kependudukan, dan unsur-unsur geografi yang ada dipermukaan bumi,
  • Dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data,
  • Memiliki kemampuan menguraikan unsur-unsur yang ada dipermukaan bumi kedalam beberapa layer atau coverage data spasial,
  • Memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memvisualisasikan data spasial berikut atributnya,
  • Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif,
  • SIG dengan mudah menghasilkan peta-peta tematik,
Apabila dimanfaatkan secara proporsional, teknologi inderaja memberikan kontribusi signifikan dalam perencanaan wilayah dengan bantuan SIG. Kontribusi paling mendasar diberikan dalam bentuk synoptic overview, di mana gambaran umum wilayah dapat disajikan secara menyeluruh tetapi ringkas. Citra inderaja dalam kaitan rencana penelitian untuk penyusunan disertasi menggunakan sistem akuisisi data citra video (video imagery) juga menjadi salah satu sumber masukan (input) revisi peta dasar yang baik, khususnya untuk fenomena yang cepat berubah dan dinamis perubahan kawasan pesisir seperti adanya abrasi, akresi, sandbar, arus, gelombang dan pasang surut.
 
Teknologi SIG mampu mengintegrasikan operasi pengolahan data berbasis database yang biasa digunakan saat ini, seperti pengambilan data berdasarkan kebutuhan dan tingkatan kemampuan, serta analisis spasial. Sistem Informasi geografis adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geografis di bumi (georeference). Disamping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.
 
Bentuk sistem informasi terpadu yang cocok dalam pengertian dapat menyimpan dan mengolah serta menyampaikan secara cepat dan mudah dari berbagai sektor adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). 
SIG dapat dipadukan dengan teknologi Penginderaan Jauh (Inderaja) yang memiliki kelebihan dalam memberikan data spasial multi temporal, cakupan yang luas dan mampu menjangkau daerah yang terpencil sehingga integrasi keduanya merupakan early information dalam pengkajian di wilayah.
 
Seperti yang telah kita ketahui bersama, ada 4 proses penting dalam Sistem Informasi Geografis yaitu pemasukan data, manajemen data, manipulasi/analisis data dan keluaran data. Keempat proses tersebut harus dilakukan tahap demi tahap untuk menghasilkan output SIG yang baik. Pemasukan data merupakan proses pemasukan data pada komputer dari peta (peta topografi dan peta tematik), data statistik, data hasil analisis penginderaan jauh, data hasil pengolahan citra digital penginderaan jauh, dan lain-lain. Adapun sebagai sumber masukan data SIG dapat diperoleh dari ;
  • Data inderaja hasil klasifikasi dan interpretasi (bentuk dijital dan berbasis raster, cakupan luas, waktu pengumpulan relatif singkat, bisa multiband, multisensor, multiresolusi, dan multitemporal)
  • Peta (bentuk non-dijital dan berbasis vektor)
  • Data survei atau statistik
SIG didesain untuk menerima data spasial dalam jumlah besar dari berbagai sumber dan mengintegrasikannya menjadi sebuah informasi, salah satu jenis data ini adalah data penginderaan jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar